Sabtu, 17 Maret 2012

Bagaimana Kepribadian Seseorang Dapat Berkembang Menurut Beberapa Ahli

Teori Psikoanalisis menurut Erickson

Erickson memberi jiwa baru ke dalam Teori Psikoanalisis, dengan memberi perhatian yang lebih besar kepada Ego daripada Id dan Superego. Dia masih menghargai Teori Freud, namun mengembangkan ide-ide khususnya dalam hubungannya dengan tahap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentuk Ego. Ego berkembang melalui respon terhadap kekuatan dalam dan kekuatan lingkungan sosial. Ego bersifat adaptif dan kreatif, berjuang aktif (otonomi) membantu diri menangani dunianya. Erickson masih mengakui adanya kualitas dan inisiatif sebagai bentuk dasar pada tahap awal, namun hal itu hanya bisa berkembang dan matang melalui pengalaman sosial dan lingkungan. Dia juga mengakui sifat rentan Ego, defense yang irasional, efek trauma-anxiety-guilt yang langgeng, dan dampak lingkungan yang membatasi dan tidak peduli terhadap individu. Namun menurutnya Ego memiliki sifat Adaptif, Kreatif, dan Otonom (adaptable, creative, dan autonomy). Dia memandang lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum (Freud), tetapi juga mendorong dan membentu individu. Ego menjadi mampu-terkadang dengan sedikit bantuan dari terapis-menangani masalah secara efektif.

Perkembangan kepribadian dalam teori psikoanalisis Erickson


1. Trust VS Mistrust (0-1/1,5 tahun).
 Perkembangan basic trust, essensial. Dalam derajat tertentu diperlukan juga perkembangan ketidakpercayaan (mistrust) untuk mendeteksi suatu bahaya atau suatu yang tidak menyenangkan & membedakan orang-orang yang dapat dipercaya / tidak.


2. Otonomi VS Rasa Malu dan Ragu ( early chilhood : 1/1,5-3 tahun).
 Mulai mengembangkan kemandirian. Bisa timbul kegelisahan, ketakutan dan kehilangan rasa pencaya diri apabila suatu kegagalan terjadi.


3. Inisiatif VS Rasa Bersalah (late chilhood:3-6th).
 Komponen positif adalah berkembangnya inisiatif. Modalitas dasar psikososialnya : “membuat”, “ campur tangan”, “mengambil inisiatif” , membentuk”, melaksanakan pencapaian tujuan dan berkompetisi”


4. Industri VS Inferiority ( usia sekolah:6-12 tahun).
 Dimulai industrial age. Pengalaman berhasil memberikan rasa produktif, menguasai dan kompetitif. Kegagalan menimbulkan perasaan tidak adekuat & inferioritas merasa diri tidak tidak berguna.





5. Identitas dan Penolakan VS difusi Identitas ( masa remaja: 12-20 tahun).
 Tahap perkembangan sebelumnya memberi kontribusi yang berarti pada pembentukkan Identitas dapat terjadi krisis identitas. Fungsi dasar remaja : mengintegrasikan berbagai identifikasi yang mereka dapat pada masa kanak-kanak untuk melengkapi proses pencarian identitas.


6. Intimasi dan Solidaritas VS Isolasi (Early adulthood : 20-35 th).

Perkembangan identitas mendasari perkembangan keakraban indvidu dengan orang lain. Kemampuan mengembangkan hubungan dengan sejenis/lawan jenis. Salah satu aspek keintiman adalah solidaritas. Jika keintiman gagal dicapai, individu cenderung menutup diri.


7. Generativitas VS Stagnasi/ mandeg ( middle adulthood : 35-65 th ).
Generativitas bertitik tolak pada ‘ pentingnya dan pengarahan generasi berikutnya’. Penting menumbuhkan upaya-upaya kreatif dan produktif . Bila generativitas gagal, terjadi stagnasi.


8. Integritas VS Keputusasaan (later years: diatas 65 th).
Secara ideal telah mencapai integritas Integritas : menerima keterbatasan hidup, merasa menjadi bagian dari generasi sebelumnya, memiliki rasa kearifan sesuai bertambahnya usia, merupakan integrasi akhir dari tahap-tahap sebelumnya. Bila integritas gagal : timbul keputusasaan, penyesalan terhadap apa yang telah dan belum dilakukannya, ketakutan dalam menghadapi kematian.

Teori Psikoanalisis menurut Sigmund Freud

Teori psikologi yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologi atau yang paling dominan dalam analisis karya sastra adalah teori Psikoanalisis Sigmund Freud. Menurut Freud, psikoanalisis ialah sebuah metode perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami penyimpangan mental dan saraf.

 Lebih lanjut lagi, menurut Fudyartanta psikoanalisis merupakan psikologi ketidak-sadaran, perhatian-perhatiannya tertuju ke arah bidang-bidang motivasi, emosi, konflik, simpton-simpton neurotik, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud ketika ia menangani neurosis dan masalah mental lainnya.


Menurut Corey, sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencakup:
 (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia.
 (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.
 (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa.
 (4) Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan.
 (5) Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi
 Dalam teori psikoanalisis yang dipakainya, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur dan sistem, yakni Id (Das Es), Ego (Das Ich), dan Superego (Das Uber Ich). Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi ketiganya. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial.


Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai ketiga sistem kepribadian menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud:

1. Id
            Id adalah sistem kepribadian yang asli atau sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri bawaan. Adapun menurut Palmquist, id ialah bagian bawah sadar psikis yang berusaha memenuhi dorongan naluriah dasar. Lebih lanjut lagi menurut Corey, id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, mendesak, dan bersifat tidak sadar. Id hanya timbul oleh kesenangan tanpa disadari oleh nilai, etika, dan akhlak. Dengan beroperasi pada prinsip kesenangan ini, id merupakan sumber semua energi psikis, yakni libido, dan pada dasarnya bersifat seksual.
 Id adalah aspek biologis dan merupakan sistem original dalam kepribadian dan dari aspek ini kedua aspek lain tumbuh. Id hanya memburu hawa nafsunya saja tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ia merupakan bagian ketidaksadaran yang primitif di dalam pikiran, yang terlahir bersama individu.
 Id bekerja sejalan dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta merta. Fungsi satu-satunya id adalah untuk mengusahakan segera tersalurnya kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan yang dicurahkan dalam jasadnya oleh rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar. Ia bertugas menerjemahkan kebutuhan satu organisme menjadi daya-daya motivasional, yang dengan kata lain disebut dengan insting atau nafsu. Freud juga menyebutnya dengan kebutuhan. Penerjemahan dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebut dengan proses primer.
2. Ego
Ego berbeda dengan Id. Ego ialah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Adapun menurut Ahmadi, ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan. Ego bertindak sebagai lawan dari Id. Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan.
 Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego merupakan tempat berasalnya kesadaran, biarpun tak semua fungsinya bisa dibawa keluar dengan sadar.
 Ego merupakan aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam dunia batin dan sesuatu yang ada di dunia luar. Peran utama ego adalah menjadi jembatan antara kebutuhan insting dengan keadaan lingkungan, demi kepentingan adanya organisme.
 Menurut Bertens tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar. Ego juga mengontrol apa yang mau masuk kesadaran dan apa yang akan dikerjakannya. Ego menghubungkan organisme dengan realitas dunia melalui alam sadar yang dia tempati, dan dia mencari objek-objek untuk memuaskan keinginan dan nafsu yang dimunculkan id untuk merepresentasikan apa yang dibutuhkan organisme. Proses penyelesaian ini disebut dengan proses sekunder.

3. Superego
            Superego ialah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif. Ia bertindak sebagai pengarah atau hakim bagi egonya. Menurut Kartono Superego adalah zat yang paling tinggi pada diri manusia, yang memberikan garis-garis pengarahan ethis dan norma-norma yang harus dianut. Superego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu dapat dianggap sebagai aspek moral kepribadian.
 Adapun superego menurut Palmquist, adalah bagian dari jiwa manusia yang dihasilkan dalam menanggapi pengaruh orangtua, guru, dan figur-figur otoritas lainnya pada masa anak-anak. Inilah gudang psiki bagi semua pandangan tentang yang benar dan yang salah.
            Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego merepresentasikan hal yang ideal, dan mendorongnya bukan kepada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan. Superego berkaitan dengan imbalan-imbalan dan hukuman-hukuman. Imbalan-imbalannya adalah perasaan-perasaan bangga dan mencintai diri, sedangkan hukuman-hukumannya adalah perasaan-perasaan berdosa dan rendah diri.



                  Lebih lanjut lagi, Menurut Hall dan Gardner Fungsi utama dari superego antara lain :
(1) sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat;
(2) mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan; dan
(3) mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda ke alam bawah sadar. Superego, bersama dengan id, berada di alam bawah sadar.

 Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis.


Mekanisme Pertahanan Ego
 Mekanisme pertahahan ego termasuk dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud. Timbulnya mekanisme pertahanan ego tersebut, karena adanya kecemasan-kecemasan yang dirasakan individu. Maka, mekanisme pertahanan ego terkait dengan kecemasan individu. Adapun definisi kecemasan ialah perasaan terjepit atau terancam, ketika terjadi konflik yang menguasai ego. Kecemasan-kecemasan ini ditimbulkan oleh ketegangan yang datang dari luar.
            Sigmund Freud sendiri mengartikan mekanisme pertahanan ego sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan.
 Mekanisme-mekanisme pertahanan ego itu tidak selalu patologis, dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup untuk menghindari kenyataan. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego yang digunakan oleh individu bergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya.
 Lebih lanjut lagi, semua mekanisme pertahanan ego memiliki dua ciri umum, yakni (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan, dan (2) mereka bekerja secara tidak sadar sehingga orangnya tidak tahu apa yang terjadi.

Menurut Freud, sebenarnya ada bermacam bentuk mekanisme pertahanan ego yang umum dijumpai, tetapi peneliti hanya mengambil sembilan macam saja, yakni: (1) represi, (2) sublimasi, (3) proyeksi, (4) displacement, (5) rasionalisasi, (6) pembentukan reaksi atau reaksi formasi, (7) melakonkan, (8) nomadisme, dan (9) simpatisme.

Konsep alam bawah sadar Freud sering didera kritik. Kalangan behavioris, humanis dan eksistensialis oercaya bahwa:
Dorongan-dorongan dan persoalan-persoalan yang dikaitkan dengan alam bawha sadar ternyata lebih sedikit dari perkiraan Freud, Bahwa alam bawah sadar ternyata tidak serumit dan sekompleks yang dibayangkan Freud. Sebagian psikolog masa kini mengartikan alam bawah sadar dengan apa pun yang tidak perlu atau tidak ingin kita lihat. Bahkan ada teoritikus yang tidak menggunakan konsep alam bawah sadar ini sama sekali.

Teori Psikoanalisis menurut Sigmund Freud

Teori psikologi yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologi atau yang paling dominan dalam analisis karya sastra adalah teori Psikoanalisis Sigmund Freud. Menurut Freud, psikoanalisis ialah sebuah metode perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami penyimpangan mental dan saraf.

 Lebih lanjut lagi, menurut Fudyartanta psikoanalisis merupakan psikologi ketidak-sadaran, perhatian-perhatiannya tertuju ke arah bidang-bidang motivasi, emosi, konflik, simpton-simpton neurotik, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud ketika ia menangani neurosis dan masalah mental lainnya.


Menurut Corey, sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencakup:
 (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia.
 (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.
 (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa.
 (4) Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan.
 (5) Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi
 Dalam teori psikoanalisis yang dipakainya, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur dan sistem, yakni Id (Das Es), Ego (Das Ich), dan Superego (Das Uber Ich). Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi ketiganya. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial.


Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai ketiga sistem kepribadian menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud:

1. Id
            Id adalah sistem kepribadian yang asli atau sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri bawaan. Adapun menurut Palmquist, id ialah bagian bawah sadar psikis yang berusaha memenuhi dorongan naluriah dasar. Lebih lanjut lagi menurut Corey, id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, mendesak, dan bersifat tidak sadar. Id hanya timbul oleh kesenangan tanpa disadari oleh nilai, etika, dan akhlak. Dengan beroperasi pada prinsip kesenangan ini, id merupakan sumber semua energi psikis, yakni libido, dan pada dasarnya bersifat seksual.
 Id adalah aspek biologis dan merupakan sistem original dalam kepribadian dan dari aspek ini kedua aspek lain tumbuh. Id hanya memburu hawa nafsunya saja tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ia merupakan bagian ketidaksadaran yang primitif di dalam pikiran, yang terlahir bersama individu.
 Id bekerja sejalan dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta merta. Fungsi satu-satunya id adalah untuk mengusahakan segera tersalurnya kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan yang dicurahkan dalam jasadnya oleh rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar. Ia bertugas menerjemahkan kebutuhan satu organisme menjadi daya-daya motivasional, yang dengan kata lain disebut dengan insting atau nafsu. Freud juga menyebutnya dengan kebutuhan. Penerjemahan dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebut dengan proses primer.
2. Ego
Ego berbeda dengan Id. Ego ialah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Adapun menurut Ahmadi, ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan. Ego bertindak sebagai lawan dari Id. Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan.
 Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego merupakan tempat berasalnya kesadaran, biarpun tak semua fungsinya bisa dibawa keluar dengan sadar.
 Ego merupakan aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam dunia batin dan sesuatu yang ada di dunia luar. Peran utama ego adalah menjadi jembatan antara kebutuhan insting dengan keadaan lingkungan, demi kepentingan adanya organisme.
 Menurut Bertens tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar. Ego juga mengontrol apa yang mau masuk kesadaran dan apa yang akan dikerjakannya. Ego menghubungkan organisme dengan realitas dunia melalui alam sadar yang dia tempati, dan dia mencari objek-objek untuk memuaskan keinginan dan nafsu yang dimunculkan id untuk merepresentasikan apa yang dibutuhkan organisme. Proses penyelesaian ini disebut dengan proses sekunder.

3. Superego
            Superego ialah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif. Ia bertindak sebagai pengarah atau hakim bagi egonya. Menurut Kartono Superego adalah zat yang paling tinggi pada diri manusia, yang memberikan garis-garis pengarahan ethis dan norma-norma yang harus dianut. Superego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu dapat dianggap sebagai aspek moral kepribadian.
 Adapun superego menurut Palmquist, adalah bagian dari jiwa manusia yang dihasilkan dalam menanggapi pengaruh orangtua, guru, dan figur-figur otoritas lainnya pada masa anak-anak. Inilah gudang psiki bagi semua pandangan tentang yang benar dan yang salah.
            Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego merepresentasikan hal yang ideal, dan mendorongnya bukan kepada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan. Superego berkaitan dengan imbalan-imbalan dan hukuman-hukuman. Imbalan-imbalannya adalah perasaan-perasaan bangga dan mencintai diri, sedangkan hukuman-hukumannya adalah perasaan-perasaan berdosa dan rendah diri.





Lebih lanjut lagi, Menurut Hall dan Gardner Fungsi utama dari superego antara lain :
(1) sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat;
(2) mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan; dan
(3) mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda ke alam bawah sadar. Superego, bersama dengan id, berada di alam bawah sadar.

 Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis.


Mekanisme Pertahanan Ego
 Mekanisme pertahahan ego termasuk dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud. Timbulnya mekanisme pertahanan ego tersebut, karena adanya kecemasan-kecemasan yang dirasakan individu. Maka, mekanisme pertahanan ego terkait dengan kecemasan individu. Adapun definisi kecemasan ialah perasaan terjepit atau terancam, ketika terjadi konflik yang menguasai ego. Kecemasan-kecemasan ini ditimbulkan oleh ketegangan yang datang dari luar.
            Sigmund Freud sendiri mengartikan mekanisme pertahanan ego sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan.
 Mekanisme-mekanisme pertahanan ego itu tidak selalu patologis, dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup untuk menghindari kenyataan. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego yang digunakan oleh individu bergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya.
 Lebih lanjut lagi, semua mekanisme pertahanan ego memiliki dua ciri umum, yakni (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan, dan (2) mereka bekerja secara tidak sadar sehingga orangnya tidak tahu apa yang terjadi.

Menurut Freud, sebenarnya ada bermacam bentuk mekanisme pertahanan ego yang umum dijumpai, tetapi peneliti hanya mengambil sembilan macam saja, yakni: (1) represi, (2) sublimasi, (3) proyeksi, (4) displacement, (5) rasionalisasi, (6) pembentukan reaksi atau reaksi formasi, (7) melakonkan, (8) nomadisme, dan (9) simpatisme.

Konsep alam bawah sadar Freud sering didera kritik. Kalangan behavioris, humanis dan eksistensialis oercaya bahwa:
Dorongan-dorongan dan persoalan-persoalan yang dikaitkan dengan alam bawha sadar ternyata lebih sedikit dari perkiraan Freud, Bahwa alam bawah sadar ternyata tidak serumit dan sekompleks yang dibayangkan Freud. Sebagian psikolog masa kini mengartikan alam bawah sadar dengan apa pun yang tidak perlu atau tidak ingin kita lihat. Bahkan ada teoritikus yang tidak menggunakan konsep alam bawah sadar ini sama sekali.


sumber terkait :
Syamsu Yusuf, Teori Kepribadian (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal. 67

Sujanto, Agus. 1997. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara

Hall Calvin S., Lindzey Gardner, 1994, Teori-Teori Psikodinamik (Klinis), Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Slamet Suprapti, Markam Sumarmo, 2003, Psikologi Klinis, Jakarta: UI Press
(Tugas)
Konsep Sehat

Apa sih Pengertian sehat ?
Harta yang paling berharga adalah kesehatan kita. Maka kali ini saya akan membahas apa pengertian dari sehat itu sendiri.

Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah orang yang sehat, dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.

“keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial. Berikut adalah 4 kriteria bahwa seseorang tersebut termasuk dalam keadaan sehat :

a.Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).

b.Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan setrusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut .

c.Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.

d.Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.


Konsep sehat Menurut beberapa Ahli

Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.

Menurut White (1977)

Sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.

Menurut Pepkin’s
 Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.

jadi, kesimpulannya: Konsep sehat sangat diperlukan untuk diri kita, kita harus menanamkan konsep sehat sejak dari kecil atau awal. Karena lama kelamaan akan terbiasa. Belajar hidup sehat, mulai dari cara hidup dan gaya hidup..

bagaimana menjaga kesehatan mental
bagi sebagian orang mungkin bertanya-tanya, bagaimana membangun dan menjaga kesehatan mental.berikut pembahasannya.

Ciri-ciri sehat mental adalah menyadari sepenuhnya akan kemampuan diri sendiri, mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar, mampu bekerja produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat berperan serta dalam lingkungan hidupnya, menerima baik serta dengan apa yang ada pada dirinya dan merasa nyaman bersama dengan orang lain, dapat menerima perbedaan.

 Jika sudah menderita gangguan kejiwaan, dan tidak mampu menyembuhkan sendiri, maka kita perlu datang kepsikiater untuk mencari pertolongan. Dan perlu diingat bahwa orangg yang datang kepsikiater untuk berobat bukan orang yang sakit jiwa berat yang sering disebut awam sebagai ‘gila’. Secara keseluruhan ada lebih dari 100 kategori gangguan jiwa, dari yang ringan hingga berat.

            Jika ditelaah dari jenis penyakit mental yang berkembang akhir-akhir ini, DR. Dan Hidayat, SpKJ menjabarkan lima di antaranya, yaitu Skizofrenia (jiwa yang ‘terpecah’), gangguan depresi berat, gangguan bipolar (memiliki dua sisi emosi yang ekstrim yang bergelombang, satu saat depresi, satu saat lain mania, gembira sekali, aktif sekali, dan bicara banyak), gangguan anxietas (cemas berlebihan), dan gangguan obsessive-compulsive (adanya pikiran dan perilaku yang menetap dan berulang-ulang). Lingkungan serta faktor keturunan (keluarga) mengambil peranan yang besar pada munculnya gangguan mental tersebut. Karena itu lingkungan dan keluarga, memiliki peranan penting juga dalam membantu kesembuhan penderita penyakit mental.



            Sebelum terkena penyakit mental, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghindari penyakit kejiwaan, yaitu rasa senang dengan diri sendiri, nyaman dengan orang lain, dan bisa memenuhi tuntutan hidup, disertai dengan berpikir positif, meningkatkan daya tahan fisik, keimanan, mental dan sosial. Orang yang dapat menjalani kehidupan dengan seimbang, dalam artian tidak memiliki tuntutan kehidupan yang berlebihan, dapat menerima kekurangan dan kelebihan dirinya dengan baik, tidak memaksakan kemauannya, dan dapat memenuhi tuntuan kehidupan yang biasa saja, bisa dipastikan akan terjauhkan dari penyakit kejiwaan yang dipengaruhi oleh lingkungan.

Jika kita merasa ‘ada yang tidak beres’ dengan kejiwaan kita, mungkin karrena terlalu banyak berpikir negatif, ataupun menghadapi masalah yang begitu banyak dan berat, dan tidak mampu mengatasinya sendiri, jangan ragu-ragu untuk minta pertolongan kepada profesional kejiwaan. Karena, dengan jiwa yang sehat maka aktifitas kita juga berjalan dengan baik.

 Selamat menjaga kesehatan mental Anda!


sumber Terkait :
Candra, Budiman. (2008). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 
 Dr. Kartini Kartono, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Bandung: CV. Mandar Maju, 1989.
Majalah GO! Edisi ke-27, oktober 2011.

Sejarah Perkembangan kesehatan mental

Secara etimologis, kata “mental” berasal dari kata latin, yaitu “mens” atau “mentis” artinya roh, sukma, jiwa, atau nyawa. Di dalam bahasa Yunani, kesehatan terkandung dalam kata hygiene, yang berarti ilmu kesehatan. Maka kesehatan mental merupakan bagian dari hygiene mental.

Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Untuk lebih lanjutnya, berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan mental.

Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam  menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.

Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa. Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:

1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.


sumber terkait :
Moeljono Notosoedirdjo, Kesehatan Mental; Konsep dan Penerapan, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2002, hal. 14.

Dr. Kartini Kartono, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Bandung: CV. Mandar Maju, 1989


Sabtu, 31 Desember 2011

Kecemasan berkomputer terhadap mahasiswa


Kali ini saya akan membahas atau menguraikan jurnal yang berjudul “Kecemasan berkomputer mahasiswa akuntansi”. Tetapi ada baiknya pembaca sekalian mengerti apa itu jurnal.

Jurnal adalah terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan yang sangat diminati orang saat diterbitkan . Bila dikaitkan dengan kata ilmiah di belakang kata jurnal dapat terbitan berarti berkala yang berbentuk pamflet yang berisi bahan ilmiah yang sangat diminati orang saat diterbitkan. (Buku Pegangan Gaya Penulisan, penyunting dan penerbitan Karya Ilmiah Pegangan Gaya Penulisan, Penyunting dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia, karya Mien A. Rifai, Gajah Mada Uneversity, 1995, h.57-95).
Jurnal juga biasanya memiliki berbagai tahapan penulisan seperti pendahuluan, pembahasan dan akhirnya penutup. Disini jurnal diawali dengan adanya abstrak yang memuat ulasan sedikit tentang pembahasan didalamnya. Biasanya abstrak tersebut bisa dalam bentuk bahasa indonesia maupun bahasa inggris atau bisa juga kedua-duanya. Yang kemudian diikuti dengan pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan dan manfaat. Kesemuanya itu membahas uraian apa saja yang melatarbelakangi diadakannya sebuah penelitian, sebelum penelitian tersebut dilakukan.
Tulisan diatas adalah sedikit pengertian apa itu Jurnal, berikut adalah uraian tentang jurnal yang akan saya bahas.
Permasalahan yang akan diuraikan terdapat pada bagian pembahasan pada jurnal yang didapat :
Dalam menghadapi perkembangan baru teknologi informasi, seseorang dapat menyikapi kehadiran komputer secara berbeda dan tak jarang disikapi dengan penolakan. Penolakan ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan sederhana tentang komputer atau mungkin juga disebabkan oleh kegelisahan yang mendalam atau ketakutan berlebih terhadap teknologi komputer (Jay, 1981 dalam Emmons, 2003) yang sering disebut dengan "computerphobia". Adanya perubahan baru terkadang menimbulkan tekanan (stress). Tekanan yang timbul dapat berupa anxiety (kecemasan) namun ada pula yang menghadapinya sebagai tantangan. Kecemasan didefinisikan sebagai perasaan yang kuat berupa ketakutan (fear) dan keprihatinan yang tidak berhubungan dengan situasi khusus yang mengancam (Cherrington, 1994 dalam Wibowo dan Hardiningsih, 2003). dan banyak peneliti lainnya telah menemukan adanya fenomena kecemasan berkomputer (computer anxiety). Kecemasan berkomputer dapat diartikan sebagai penolakan terhadap perubahan. Penolakan dapat berupa gejala atau sesuatu yang lain seperti ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui, ketakutan akan kegagalan, atau ketidakinginan untuk mengubah keadaan sekarang. Hasil penelitian empiris menunjukkan bahwa
kecemasan berkomputer memiliki dampak negatif terhadap penggunaan computer (Mahar et al., 1997). Karena kecemasan berkomputer memiliki dampak sejauh itu, maka diperlukan pengetahuan empiris yang valid mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi variabel-variabel ini. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Landry et al., (1996) menguji pengaruh tipe kepribadian dengan sikap mahasiswa akuntansi terhadap komputer. Sikap terhadap komputer dalam penelitian ini diukur menggunakan Computer Attitude Scale (CAS) yang dikembangkan oleh Loyd dan Gressard (1984) dan instrumen baru Computer Usage Business Scale (CUBS) yang dikembangkan oleh peneliti. Instrumen CAS yang telah banyak digunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan sikap terhadap komputer ini memasukkan kecemasan berkomputer sebagai salah satu subskala pengukurannya. Sedangkan variabel tipe kepribadian yang dimaksud dalam penelitian tersebut adalah tipe kepribadian sesuai dengan teori psikologi menurut Jung (1921).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukannya interaksi yang signifikan antara dimensi sensing-intuitive dan thinking-feeling dengan computerphobia.

Kecemasan berkomputer dapat didefinisikan pula sebagai kegelisahan penggunaan komputer dan kegelisahan mengenai dampak negatif dari penggunaan komputer terhadap masyarakat.

Penelitian ini menguji beberapa hipotesis. Hipotesis pertama menguji hubungan antara tipe kepribadian dan kecemasan mahasiswa terhadap penggunaan teknologi komputer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Landry et al. (1996) menunjukkan bahwa ditemukannya hubungan yang signifikan pada preferen sensingintuitive dan thinking-feeling dengan computerphobia, sehingga hipotesis pertama diajukan sebagai berikut:

H1: Tingkat kecemasan berkomputer pada mahasiswa akuntansi akan bervariasi
menurut tipe kepribadian mereka.
H2 : Tingkat kecemasan berkomputer pada mahasiswa akuntansi akan bervariasi
menurut jenis kelamin mereka.
H3 : Tingkat kecemasan berkomputer pada mahasiswa akuntansi akan bervariasi
menurut IPK mereka.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak kampus mungkin perlu mempertimbangkan untuk menambah mata kuliah yang berhubungan dengan system informasi berbasis komputer yang sifatnya wajib di samping melengkapi sarana teknologi komputer di lingkungan kampus serta mengadakan pelatihan-pelatihan komputer yang bertujuan untuk membuat mahasiswa lebih mengenal teknologi komputer sehingga diharapkan terjadi penurunan tingkat kecemasan berkomputer seiring dengan semakin berkembangnya teknologi.

Dengan mengetahui hubungan antara cognitive style dengan kecemasan berkomputer pada mahasiswa, dari sudut pandang pengajar, mungkin dapat dirancang suatu sistem pengintegrasian komputer ke dalam proses pembelajaran dengan disesuaikan dengan cognitive style para mahasiswa.

sekian uraian jurnal yang saya tuliskan, semoga bisa menambah pengetahuan bagi pembaca :)

http://syaiful-ali.staff.ugm.ac.id/Kecemasan%20berkomputer%20--mahasiswa%20akuntansi.pdf

sumber : (http://saidin21.wordpress.com/2007/08/29/jurnal-ilmiah/)

Minggu, 20 November 2011

Analisa dampak hubungan (sosial dialog) Via Internet


Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi di Indonesia yang dimulai sejak tahun 2000-an telah mengalami perkembangan yang pesat, jika dulu masyarakat hanya menggunakan media internet hanya sebatas browsing situs dan mengirimkan e-mail. Seiring dengan berkembangnya teknologi dan fasilitas yang ditawarkan oleh situs-situs jejaring sosial dan juga ditunjang oleh informasi yang diterima masyarakat mengenai dunia maya, telah mendorong masyarakat untuk lebih kreatif untuk menjaga eksistensi diri di dunia maya dan juga memanfaat kan fungsi Internet. Seperti berbisnis lewat website, facebook,twitter, bahkan penyaluran bakat lewat youtube dengan video recordnya. 

Tanpa sadar segala dan siapa pun yang berhubungan lewat jejaringan Internet baik itu website, twitter, facebook, youtube, dan lain-lain memiliki beberapa dampak, sehubungan dengan  hubungan tidak lagi ”face to face” dalam berkomunikasi.

Kita lihat ke kegiatan jual beli online, ada komunikasi yang tak langsung didalam kegiatan transaksinya. Belakangan tidak sedikit orang yang terjebak akan jual beli produk dengan modus penipuan belaka. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda-beda terhadap penawaran-penawaran yang ada disitus internet. Tidak semua orang yang dengan mudah gampang terjebak, sering orang lebih menjadi teliti terhadap tawaran-tawaran yang ada di internet. Dengan kesimpulan, bahwa dampaknya adalah orang bisa jadi tertipu (jika tidak memiliki pengalaman tranksaksi Online). Tetapi, disisi ada beberapa orang menganggap hal itu adalah hal yang tidak mudah untuk dipercaya atau lebih berhati-hati dan menjadi teliti.

Kemudian, kita lihat peran baik itu facebook, twitter, dll. Budaya yang sering ”share on facebook, share on twitter, dll” membuat banyak dampak bagi setiap pribadi yang memiliki akun dari salah satu jejaringan ini,misal : terbuka terhadap suatu hal karena di situs facebook ataupun twitter seseorang tersebut dapat men-share segalanya di publik sehingga publik pundapat menilai seseorang itu dengan mudahnya. Dampak lainnya adalah seseorang akan menjadi pecandu aksesoris hidup atau gaya hidup yang tak bisa lepas dari hal-hal yang  bersifat meng-update. Seseorang akan menganggap bahwa:
  • Tren menjadi kebutuhan hidup
Tidak puas dengan satu atau dua barang saja yang sedang menjadi hip, tapi pecandu tren ingin memiliki berbagai macam barang yang sedang tren saat ini. Baginya barang-barang tersebut sudah seperti kebutuhan hidup yang harus ada didekatnya. Misal handphone, Mp3 player, PSP, dan lainnya.
  • Atas Nama gengsi
Yah benar, para tren addict sering sekali mengejar dan membeli barang yang bukan karena butuh, melainkan karena ingin tampil keren dan menaikkan statusnya dimata orang lain.
  • Tidak bijak dalam belanja
Tidak bisa menahan nafsu untuk belanja barang-barang yang sedang up date.
  • Senang pamer, dan juga pembosan.

Ini akan sangat menjadi berbahaya perilaku yang tergantung dengan hubungan jejaringan sosial akan mendekati perilaku yang konsumtif, sombong, kurang empati,pemboros, dan juga pengejar status.

Timbul pertanyaan ”How to stop ?”
  • Dengan pintar memilih, dimulai dengan membedakan mana yang kita butuhkan dan mana yang tidak kita butuhkan. Dengan begitu kita bijak dalam segala hal.
  • Menghargai sebuah benda, belajarlah menggunakan benda sesuai dengan fungsinya, dengan begini perilaku akan berdampak pada interaksi sosial dengan masyarakat nantinya.
  • Tahan diri dari godaan untuk berbelanja yang berlebihan, coba fikirkan dampak setelahnya.
  • Dan berfikirnya bahwa status bukan segalanya . nah ini yang perlu lebih dalam untuk pahami pada diri setiap individu kita, status sosial dalam pergaulan itu tidak hanya dilihat dari harta yang kita punya. Dengan menggali potensi dan memperkaya diri dengan segala macam info, maka kita terlihat tetap bersinar dan seru diantara teman-teman.

Selain itu kita lihat dampak Youtube. YouTube adalah sebuah situs web video sharing (berbagi video) populer dimana para pengguna dapat memuat, menonton, dan berbagi klip video secara gratis. Umumnya video-video di YouTube adalah klip musik (video klip), film, TV, serta video buatan para penggunanya sendiri.Format yang digunakan video-video di YouTube adalah .flv yang dapat diputar di penjelajah web yang memiliki plugin Flash Player. Menurut perusahaan penelitian Internet Hitwise, pada Mei 2006 YouTube memiliki pangsa pasar sebesar 43 persen.

Sumber tekait :
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/09/fakta-terbaru-dampak-efek-mediajejaring.html